Melihat angka-angka pada kinerja operasional pada pos pendapatan dan pengeluaran di tahun 2016. Kepala menjadi pening. Sebuah angka yang berdarah-darah.
Padahal pendapatan hanya Rp 138 milyar di tahun tersebut. Sedangkan beban mencapai hampir Rp 1 trilyun (Rp 982 milyar). Walhasil Rp 843 milyar menjadi rugi operasional di tahun 2016.
Namun pinangan di akhir tahun 2017 menjadi Dirut untuk membenahi TVRI tetap diterima oleh Helmy Yahya. Sebagai seorang akuntan dan pebisnis, beliau pasti mengerti. Ini sebuah pekerjaan besar dan sangat berat.
Kinerja 2017, pendapatan TVRI mulai naik menjadi 150 milyar, naik sedikit 9% dari tahun 2016. Namun bila kita kesampingnkan hasil ini karena HY baru masuk di akhir 2017. Mari kita lihat kinerja 2018 dimana HY memimpin satu tahun penuh.
Pendapatan 2018 naik dengan persentase dua digit, yang lebih besar dari tahun sebelumnya, yaitu sekitar 13%, sehingga pendapatan mencapai 170 milyar.
Namun beban kembali naik yang sempat turun di 2017, menjadi naik 4% sebesar Rp 956 milyar di tahun 2018. Sehingga di tahun 2018 kinerja operasional masih membukukan kerugian hingga Rp 785 milyar. Angka kerugian ini lebih besar 2% dari 2017, dimana rugi operasional sebesar Rp 768 milyar.
Dari angka sampai tahun 2018, buah kerja HY bisa meningkatkan pendapatan, namun ditrade-off dengan beban biaya yang sedikit lebih besar, sehingga kerugian operasional belum berkurang sesuai yang diinginkan.
Pekerjaan rumah besar seorang Dirut TVRI adalah menumbuhkan pendapatan dengan laju beban biaya yang lebih rendah, sehingga kerugian dapat ditekan.
Karena laporan keuangan 2019 belum rilis. Kita belum lihat apakah ada peningkatan pendapatan, penurunan beban biaya dan penurunan kerugian operasional?

