Strategic atau Real IPO?

Mostly atau bisa dibilang IPO-IPO yang ditawarkan oleh para emiten baru adalah strategic. Tidak murni atau real IPO.

Kenapa?

Aturan penjatahan saham sebesar 99% menyebutkan penjatahan dialokasikan untuk investor-investor di tahap book building atau masa penawaran awal. Yang umumnya adalah investor institusi baik dari partner bisnis calon emiten, atau non-partner bisnis calon emiten, yang berminat dengan masa depan perusahaan calon emiten.

Ada pula investor-investor yang berminat di saham IPO untuk jangka pendek-menengah, mendapatkan keuntungan dari anomali harga IPO yang cenderung undervalued dibanding overvalued.

Nah sisa 1% baru lah dilepas ke publik, yaitu para investor ritel dan individu yang bisa pesan saham IPO saat fase pooling atau masa penawaran umum.

Bisa dibayangkan jatah hanya sebesar 1% ini tapi dibagi ramai-ramai ke investor ritel. Otomatis investor ritel dapat sangat sedikit. Bahkan bisa hanya 1 lot per orang. Padahal pesannya bisa jutaan, puluhan juta rupiah atau lebih dari ini.

Oleh karena itu pemerintah sedang menggodok untuk menaikkan jatah investor publik ke angka 15%, tapi ini malah menjadi mengkhawatirkan underwriter dan calon emiten.

Karena investor ritel mudah panik sehingga sedikit ada isu tidak baik langsung dijual sahamnya dan mendorong harga saham turun bila ramai-ramai semua jual saham. Calon emiten harus menyiapkan dana untuk membeli saham agar harga saham tidak turun lebih dalam.

Jadi kembali ke judul tulisan ini, maka IPO-IPO yg berlangsung saat ini terjadi karena memang sudah ada investornya, yaitu pembeli siaga saham IPO tersebut. Jika calon emiten belum punya standby buyer maka mereka perlu cari sendiri atau dibantu pihak lembaga advisory investasi.

#IPO #GoPublic #PasarModal #HRNotes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *