Pasca IPO, perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham memiliki likuiditas kas yang “mewah”, dengan kata lain uang kas tunai berlimpah. Market di pasar saham sangat senang bila perusahaan kinerjanya naik, ditunjukkan dari pendapatan yang naik dan laba yang cemerlang.
Dengan uang kas berlimpah tersebut, maka mendorong perusahaan publik untuk menggenjot ekspansi usaha dengan cara anorganik, yaitu mengakuisisi perusahaan lain demi peningkatan revenue dengan cara instan yang berdampak jangka pendek kepada peningkatan revenue.
Likuiditas kas menjadi salah satu pendorong terjadinya aksi akuisisi oleh perusahaan publik yang baru IPO kepada perusahaan lain. Akuisisi perusahaan ini tidak dibatasi harus sejenis, namun diversifikasi yang tidak sejenis juga bisa dilakukan.
Contoh perusahaan hotel Hermitage (HRME) mengakuisisi perusahaan pelayaran GSN dengan besar biaya akuisisi Rp 62 milyar. Akibat akuisisi ini GSN bisa berkontribusi ke pendapatan HRME sebesar Rp 14 milyar di tahun 2019. HRME membidik kenaikan pendapatan hingga menembus Rp 100 milyar di tahun 2019, yang sebelumnya di tahun 2018 baru Rp 60.7 milyar.
Rugi sebesar Rp 25 milyar di tahun 2018 diprediksi bisa ditekan menjadi sekitar Rp 20 milyar di tahun ini. Perusahaan ini baru diprediksi menghasilkan keuntungan di tahun 2020.
Akuisisi HRME ke GSN perlu dicermati karena bidang bisnis induk dan anak usaha akan sangat jauh berbeda. Keunggulan HRME sebagai perusahaan hotel akankah mensupport anak usaha GSN untuk tumbuh dan berkembang. Ada keraguan disini. Kapabilitas dan kompetensi utama di kedua bisnis berbeda.

