Startup VS UKM, apa bedanya?

Seringkali kita tertukar antara istilah UKM dan Startup. Kita sudah akrab dengan sebutan UKM atau Usaha Kecil Menengah. Namun istilah startup bagi sebagian orang masih asing. Beberapa tahun terakhir munculnya fenomena social media dari facebook, twitter, linkedin, path, dan social media lainnya menandakan kemunculan perusahaan startup dunia yang merambah hingga negara ini. Startup-startup lokal pun muncul menjamur di berbagai ranah, seperti e-commerce, transportasi, travel, fashion, dan sebagainya. Istilah startup sendiri diserap dari bahasa asing yang memiliki arti perusahaan atau organisasi bisnis yang baru memulai aktivitasnya. namun arti ini belum cukup untuk membedakan usaha UKM dengan startup. Jadi apakah yang membedakan keduanya?

Startup VS UKM

setahun terakhir, saya bersama partner memutuskan untuk masuk dan meluncurkan tech startup tepatnya online B2B marketplace untuk kebutuhan laboratorium dengan nama LabSatu.com yang bidangnya beririsan dengan bisnis konvensional (baca: UKM) yang telah saya bangun selama 6 tahun. Kenapa saya masuk kesini? LabSatu.com merupakan sebuah jawaban dalam bentuk platform yang memudahkan seluruh stakeholder di industri laboratorium, yaitu memudahkan user untuk mencari barang kebutuhan laboratoriumnya dan memudahkan vendor untuk memasarkan produk-produknya. Kami menggarap two-sided market, karena berupa marketplace, yaitu mengajak user dan vendor secara bersamaan untuk menikmati layanan dari LabSatu.com. Saat ini sudah 200 brand lebih bergabung di LabSatu.com.

Kembali ke topik awal, lalu apa perbedaan antara bisnis startup dan UKM?

Perbedaan terbesar dari kedua jenis bisnis ini adalah sasaran utama keduanya. Bisnis UKM digerakkan dengan motif utama adalah profitabilitas dan penjualan stabil dalam jangka panjang, sedangkan Bisnis startup fokus pada potensi pertumbuhan yang cepat. Spirit keduanya sangat berbeda. Jika kita membuka dan menjalankan UKM, maka sasaran kita adalah bagaimana secepatnya mendapatkan penjualan dan menguntungkan.

Namun untuk startup, sebagian model bisnis startup mengejar jumlah pertumbuhan user yang eksponensial terlebih dahulu walau belum sama sekali mendapatkan revenue atau pendapatan. Seperti yang terjadi pada facebook di 5 tahun pertama berdiri dimana mereka berjuang mencari cara untuk memonetisasi jumlah pengguna yang banyak namun belum menghasilkan pemasukan buat mereka. Cara mereka bertahan hidup adalah mencari pendanaan dari perusahaan-perusahaan venture capital atau angel investor yang membidik pengembalian investasi besar dalam masa mendatang. Namun ada pula yang masih mengandalkan pendanaan sendiri atau dikenal dengan istilah bootstrapping. LabSatu.com juga didirikan dari dana internal sendiri. Kami hanya membuka diri kepada investor strategik yang bidangnya beririsan dengan bidang kami dan mempunya visi yang sama di bidang ini. Pilihan bootstrapping juga dilakukan oleh startup MailChimpdan Atlassian.

Paul Graham, co-founder Y Combinator, perusahaan akselerator startup di Silicon Valley menyebutkan bagi startup yang dididik oleh Y Combinator minimal pertumbuhan mencapai 5–7% per minggu dan tergolong bagus ketika mencapai 10% per minggu. Jika kita totalkan, maka pertumbuhan yang diharapkan oleh startup adalah berkisar antara 20% hingga 40% per bulan. Saya pun mendapatkan ‘bocoran’ dari salah satu tim BukaLapak, startup di bidang online marketplace ini, mereka diminta membukukan minimal 20% pertumbuhan setiap bulannya. Nampaknya sejalan dengan prinsip dari Paul Graham di atas.

Beragam Definisi Lain Startup

A startup is a company designed fast (Paul Graham, co-founder Y Combinator)

A startup is a human institution designed to deliver a new product or service under conditions of extreme uncertainty (Eric Ries, Penulis Lean Startup)

A startup is an organization formed to search for a repeatable and scalable business model (Steve Blank, Penulis Startup Owner Manual)

Saya kutipkan ketiga definisi di atas karena ketiga tokoh ini paling sering jadi narasumber apabila bicara tentang topik startup. Definisi startup yang disebutkan Paul Graham sangat jelas membedakan usaha startup dengan usaha jenis lainnya, termasuk usaha UKM. Jika usaha kita tidak cukup cepat untuk dimasukkan ke startup, maka bisa jadi usaha tersebut masih tergolong usaha UKM.

Eric Ries melalui buku best sellernya “Lean Startup” yang menjadi panutan dan referensi banyak orang dalam menggulirkan usaha startupnya memberikan arti startup sebagai institusi yang dibuat untuk menjual produk/jasa baru dalam kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi. Karena ketidakpastian yang sangat tinggi inilah maka sebagai entrepreneur startup perlu cara-cara untuk mengurangi resiko atau meminimalisir resiko dan ia tawarkan metode Lean Startup yang merupakan adaptasi dari metode Lean dari dunia manufaktur yang dipopulerkan oleh pabrik otomototif Toyota. Saya merekomendasikan anda membaca buku Lean Startup ini. Saya sendiri sudah dua kali menghabiskan buku ini namun rasanya masih ingin membaca ulang kembali.

Yang sedikit memberikan penekanan berbeda tentang arti startup datang dari Steve Blank, penulis beberapa buku referensi di dunia startup sekaligus professor stanford university dan merupakan dosen dari Eric Ries, Steve Blank menekankan bahwa startup adalah masa pencarian model bisnis yang teruji yang nantinya akan discaling lebih besar. Jika startup belum menemukan model bisnis yang bisa di-repeatable dan di-scaling ini maka startup perlu melakukan iterasi berkali-kali atau bahkan mengubah arah (baca: pivot) terhadap model bisnis yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Pada permulaan model bisnis yang dirumuskan oleh startup adalah sekumpulan hipotesa terhadap segala elemen dalam bisnis startup yang kemudian diuji oleh startup dalam perjalanan bisnisnya. Ketika hipotesa terbukti di lapangan maka diteruskan oleh startup namun jika ternyata meleset maka startup perlu melakukan modifikasi. Bukan hal tabu jika startup mengubah model bisnisnya hingga akhirnya mendapatkan model bisnis yang benar-benar ‘bekerja’. Baru-baru ini startup lokal YesBoss, sebuah startup layanan asisten virtual pribadi mengubah arah model bisnisnya menjadi Kata.ai, sebuah platform yang menggunakan teknologi AI (artificial intelligence) untuk menghubungkan brand dan konsumen di berbagai messaging platform.

written by @hendryonstartup

 

(img : img.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *