Investasi Sepanjang Hayat Bagi Generasi Millennial

Istilah ‘jebakan kelas menengah” kembali muncul dalam paragraf pertama pidato pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2019-2024.

Presiden Joko Widowo telah mencanangkan visi kemakmuran dengan target bersama nilai produk domestik bruto (PDB) per kapita mencapai Rp 320 juta per tahun ketika perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Laporan Bank Dunia untuk Indonesia tahun 2014 mengingat Indonesia berisiko gagal menjadi negara kaya yang dg syarat minimum PDB per kapita $12.000 per tahun bila rata rata pertumbuhan ekonomi selama 2013-2030 hanya enam persen. Sebab dengan laju tersebut PDB per kapita saat penduduk kita menua tahun 2030 hanya $8.500 per tahun.

Berikut Panduan Perencanaan Kemakmuran Investasi Sepanjang Hayat (life-cycle investing) yang dapat dilakukan oleh seorang Millenial berusia 25 tahun untuk dapat pensiun pada usia 55 tahun (investing time: 30 tahun).

Estimasi total asset yang dibutuhkan untuk pengganti gaji (labor income) Rp320 juta per tahun (Rp 27 juta per bulan) selama masa harvesting 20 tahun sebesar Rp 6,4 miliar. Sangat maklum bila angka ini “intimidating” bagi sebagian besar anggota masyarakat yang mengimani menabung itu jalan jitu untuk cegah risiko tuwir sebelum tajir.

Namun, angka tersebut tidak mustahil bagi mereka yang mau merubah paradigma berpikir dan bertindak, terutama terkait dengan urusan keuangan.

Mengikuti inspirasi investasi ala Nabi Yusuf (QS 12:47), untuk fase pertumbuhan (growth) dapat dilakukan dengan memperbanyak alokasi asset property dan reksadana saham. Silakan gunakan acuan (100 – umur).

Dengan asumsi proyeksi imbal hasil investasi 10,5% per tahun dibutuhkan investasi berkala Rp2,47 per bulan selama 30 tahun masa investasi.

Dalam jangka panjang, acuan investasi dalam asset saham per tahun relatif mendekati penjumlahan proyeksi pertumbuhan ekonomi plus inflasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *